Cerita ini bermula pada saat kami belajar fisika dengan Mr. Khairul. Guru yang satu ini, gak tau aku gimana cara berfikirnya. Bagi dia, kalau cewe-cewe dalam kelas sudah mengatakan bahwa jawaban dari sebuah soal sudah benar, maka dia langsung mengambil keputusan bahwa itu benar whether the answer is true or false. Bapak ini aku gak tau sebenarnya dia ahli gak dalam bidang fisika, memang kemampuan motivasinya is top notch dan pantas di apresiasi tinggi. Pada waktu dia ngajar dia selalu melihat catatannya dan kami gak pernah liat dia menyelesaikan satu soal pun diluar catatan dia. Suatu ketika dia menyarankan kepada kami untuk mengambil les di adzkia hayam wuruk. Then I, arif, aulia sepulang sekolah langsung mencari tempat les yang diberitahu bapak itu (soalnya bapak tu menulis surat rekomendasi terhadap kami bertiga dan sepertinya kami akan dapat diskon). Pertama kami bertanya kepada aulia dimana hayam wuruk, dan dia mengatakan dengan yakin bahwa dia tahu dimana hayam wuruk itu. Our journey start from selecting the right Angkot for the job. Setelah kami naik angkot pertama kami turun di jalan mongonsidi. Setelah itu kami langsung bertanya kepada aulia “Naek angkot berapa ni au ke hayam wuruk?” dan dia dengan santainya menjawab “wak, aku lupa!!!” sontak kami menjawab “dafuq, so we're lost now”. Dan aulia langsung bertanya kepada seseorang untuk mencari tahu naek angkot berapa selanjutnya. Ok the man he asked answerd very promised. Jadi kami naek angkot yang di sarankan oleh seseorang tadi, and we're in on it. Setelah jalan, aulia mengatakan kepada kami kalau pemberhentian selanjutnya adalah pajak pringgan.
Setelah 15 menit di dalam angkot, aku melihat ad pasar di jalan yang kami lewati. Aku bertanya pada aulia “Au, ini pajak pringgan?”, aulia menjawab “ bukan, pajak pringgan bukan disini.”. Aku langsung percaya aja, karena aulia ne anak medan jadi pasti dia tau. Setelah agak lama kami berada di dalam angkot, aku dan arif mulai merasa aneh, kok hayam wuruk jauh kali ya, kalau sejauh ini kayag mana kita mau pergi les, dan kami langsung bertanya kepada aulia “au, kok belum sampe-sampe”, dan dia dengan santainya menjawab “emang belum, masih tu hayam wuruk”. Ok fine. Setelah sekian lama di angkot aulia mulai menyadari keanehan itu sendiri, dia bertanya ma kami “we, kog jauh kali ya hayam wuruk”, dan kami menjawab “manalah kami tau au, yang anak medan kan kau”, setelah itu kami tetap diam dan memperhatikan di jalan ada tulisan hayam wuruk atau pajak pringgan. Semakin lama kuperhatikan, aku sadar bahwa jalan yang sedang kami lalui ini seperti bukan di medan lagi, aku bilang pada aulia “au, ini medan bagian mana??”, aulia menjawab dengan polos “aku gak tau”, aku sama arif langsung masang muka bodoh. Mendengar kericuhan kami bertiga, seorang wanita muda bertanya kepada kami “bang, pada mau kemana ini”, kami menjawab” mau ke hayam wuruk mbak”. Sontak satu angkot pada tertawa semua, wanita tadi kemudian berkata “bang, angkot ini mau ke binjai, ne kita dah sampe perbatasan binjai-medan”, kami bertiga langsung tercengang mendengar penjelasan wanita itu, kami langsung berkata “bang pinggir” dan bertanya kepada supir angkot itu kami harus naik angkot berapa supaya balik ke usu. Kalian semua bisa membayangkan gimana malunya kami bertiga .
Singkat cerita, kami sampai di usu, daerah yang kami kenali. Kami bertiga berunding mau lanjut nyari hayam wuruk atau pulang, dan akhirnya keputusan diambil, kami tetap mencari dimana hayam wuruk itu berada. Supaya tidak tersesat lagi, kami memutuskan untuk menelfon taksi. Setelah kami naik ke dalam taksi, sopir taksi bertanya “mau kemana bang?”, kami menjawab “ke hayam wuruk pak”, aku melihat sekilas bapak itu tersenyum menahan tawa, pasti ini ada apa-apanya. Tidak sampai 10 menit, kami tiba di hayam wuruk. Kami bertiga tebodoh karena hayam wuruk itu sudah kami lewati waktu naek angkot sebelumnya. Aku lihat argonya, ternyata cuma 8 ribu, tapi kami harus membayar 25 ribu karena itu tarif minimum untuk pemesanan taksi lewat telepon. Mungkin maksud bapak sopir itu tersenyum menahan tawa karena sebenarnya hayam wuruk itu dekat sekali dari lokasi kami memesan taksi. Dengan berat hati, kami mengeluarkan uang 25 ribu, dan kami berhenti tepat didepan hayam wuruk. Kami langsung menghampiri meja informasinya dan menanyakan tentang kelebihan dari tempat les ini. Setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya kami memutuskan untuk menunda masuk les. Keluar dari ruang informasi, kami bertiga berunding, dan kami sama-sama menyatakan “not intersted”, and the journey ends with only one thing, we know where is hayam wuruk.
So that's the story of 3 of us finding hayam wuruk, hope you enjoy it, aku minta maaf kalau kalian kurang ngerti isi ceritanya, aku belum terlalu pandai bercerita. Semoga kedepannya keahlian aku dalam bercerita semakin bertambah. Thank you for your patient and kindness again for reading my story. See you in the next post!.
aulia itu sesuatu yaaa
BalasHapusthe most crazy thing i ever do. aulia paok.. hayam wuruk masi di depan selo aja.
BalasHapus